Rabu, 08 Januari 2014

We were Born to be as Success as Steve Jobs

Siapa yang tidak pernah mendengar nama Steven Paul Jobs atau lebih dikenal dengan Steve Jobs ? Terutama bagi Anda yang menggeluti dunia IT, pasti nama itu sudah tak asing lagi. Yap, Beliau adalah salah satu pendiri Apple Inc yang mampu mengubah dunia dengan iPod, iTunes, iPhone, dan iPadnya.


Dengan karyanya yang begitu membahana, Steve Jobs menginspirasi para pebisnis dari berbagai belahan dunia mulai dari pemula hingga yang sudah menjajaki dunia bisnis bertahun lamanya. Meskipun kini beliau sudah tiada, namun kegigihannya mengembangkan Apple Inc masih sangat pantas diberi apresiasi.

Percaya kah Anda, bahwa beliau mencapai kesuksesan tersebut membutuhkan waktu yang sangat lama dan pengorbanan yang tidak sedikit? Dan percaya kah Anda, bahwa kita terlahir menjadi sosok se-sukses Steve Jobs dan tokoh hebat lainnya ?

Ya, karena Steve Jobs adalah manusia biasa yang diberi kelebihan oleh Tuhan dan beliau mau serta mampu untuk mengembangkan bakatnya.. yakinlah bahwa semua orang memiliki kelebihan dan kesempatan yang sepadan!

Berikut 5 tips sukses ala Steven Paul Jobs :

1. Cintai Pekerjaan Anda
Steve Jobs begitu mencintai dunia kerjanyaMeskipun ia pernah di pecat oleh eksekutif yang ia angkat di Apple, namun ia menerimanya dengan lapang dada, dan bahkan tidak merasa malu untuk bergabung kembali ke Apple ketika mendapatkan kesempatan kedua kalinya. Langkah yang dipilih Steve Jobs tentunya memberikan gambaran pada kita semua, bahwa walaupun ia pernah mengalami penolakan, namun ia tetap rela memulainya kembali dari nol karena ia benar-benar menyukai pekerjaannya (Apple)
2. Stay Hungry Stay Foolish
Tetaplah lapar, tetaplah bodoh.  Istilah ringan namun ternyata berhasil memotivasi banyak orang untuk terus lapar akan ilmu pengetahuan, dan terus belajar untuk meningkatkan kemampuannya. Modal inilah yang membuat Steve Jobs tak pernah berhenti menyerah untuk terus berkreasi dan berinovasi, hingga akhirnya ia berhasil menciptakan ide-ide besar dan mampu mengotak-atik perangkat elektronik sederhana menjadi pendetus sejarah komputerisasi yang sangat mendunia.
3. Mengesampingkan Ego dan Mengedepankan Inovasi
Meskipun saat itu Steve Jobs telah menjadi pengusaha sukses, namun ia rela mengesampingkan ego dalam dirinya dan menggandeng rival terberatnya (Microsoft) agar bisa menciptakan inovasi baru yakni iMac dengan profit sebesar US$ 601 juta pada tahun 1999. Strategi  bisnis inilah yang perlu dipraktekan para pengusaha di Negara kita, karena pada dasarnya setiap pengusaha memiliki visi yang sama yaitu bisa membantu para konsumen untuk mewujudkan impiannya.
4. Menciptakan Kesederhanaan untuk Melahirkan Impian Konsumen
Terkadang sederhana itu lebih susah daripada rumit. Bahkan Steve Jobs pun harus bekerja lebih keras untuk bisa berpikir optimal dan membuat produk Apple yang dikenal canggih menjadi lebih sederhana. Sederhana yang dimaksud disini tentu bukan berarti mengurangi fitur-fitur di dalamnya, namun memikirkan cara mengoperasikan yang lebih gampang (sederhana) sehingga para konsumen bisa langsung memikirkan apa yang akan mereka lakukan ketika memiliki produk Apple. Terbukti, belakangan ini produk Apple lebih simple dan memahami kebutuhan para konsumen.
5. Mengingat Datangnya Kematian
Sebagai manusia biasa, tentunya kita tak bisa mempredisikan kapan maut menghampiri kita. Hal inilah yang selalu diingat Steve Jobs dalam menjalankan dan mencintai pekerjaannya, sehingga setiap kali bercermin di pagi hari, ia selalu mengupayakan apa yang dilakukannya bisa jauh lebih baik, bermakna dibandingkan hari-hari sebelumnya dan mulai merencanakan pilihan-pilihan besar dalam hidupnya.

Are you ready to be as success as Steve Jobs? We were also born that way!

Minggu, 05 Januari 2014

Everyone Has Their Own "Competence"

Segala sesuatu akan lebih baik dan terkontrol apabila memiliki sebuah kompetensi atau standar yang telah ditentukan. Layaknya pendidikan, pekerjaan, permainan, dan banyak bidang lainnya. Bahkan bidang-bidang tersebut memiliki kompetensi yang lebih spesifik. Contohnya dalam bidang pendidikan, setiap sekolah memiliki rancangan standar kompetensi yang berbeda.

Nah, di sini kompetensi akan saya sebut dengan KPI atau Key Performance Indicator. Apa tuuuh? 
KPI adalah indikator atau faktor-faktor yang mempengaruhi kesuksesan suatu hal/tujuan tertentu, dimana dapat mengidentifikasi elemen-elemen penting dari sebuah kesuksesan (taraf yang ingin kita raih).

Nahlo, dilihat dari pengertian KPI aja ribet banget sepertinya yaa. Usut punya usut, lebih sederhananya KPI adalah rincian hal yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan kita, Readers.
Jelas banget kan kalau KPI wajjjiiibbekk ditentukan, hahaha lebay dikit.

Begitu pula dengan kita, setiap orang alangkah lebih baik memiliki kompetensi dan mulai membangun KPI bagi dirinya sendiri.

Seperti apa sih?

Saya beri contoh yang jelasnya ini sesuai dengan diri saya


Readers bisa kok membuat lebih banyak indikator yang dapat menunjang keberhasilan yang ingin diraih. Disamping sesuaikan dengan diri masing-masing, akan lebih baik jika disesuaikan dengan lingkungan sekitar dan ditambah masukkan dari orang lain. Sippp makin sedap deh!

Kamis, 02 Januari 2014

Love Never Goes Wrong

I KNOW IT.

Was it your comment at the first time saw this post's tittle?


Check it out whether it has fitted you well.


It's about long time I haven't shared any post. Duh, keminggris. Back to Indonesia Language lah ya... (moon grin)

Cinta itu tidak akan pernah salah, readers.
Tetapi masih ada sih kalimat dari kita yang terlontar seperti:
"Tapi aku pernah sakit hati, KARENA cinta"
"Tak kenal maka tak sayang, yauda sih aku gak kenal mereka-mereka ngapain juga harus..... tiiiit and blah blah"


Nih baca dulu kutipan lirik lagu Bangun Cinta - AMPM

"Lebih baik bangun cinta daripada jatuh cinta

Jatuh itu sakit, bangun itu semangat

Lebih baik bangun cinta daripada jatuh cinta
Meski tak mudah namun cinta jadi punya tujuan"

Bener juga, yah? Bangun cinta lebih baik, karena cinta jadi punya tujuan. Jadi tidak ada alasan untuk malas mengenal sesuatu atau sosok yang baru kan? Tidak ada ruginya kok! ;)

Kalau sakit hati karena cinta, hmm itu sih bukan cinta nya yang salah melainkan prinsip yang tidak sejalan. Kalau gagal karena awal nya mencintai sesuatu sih, itu bukan cinta yang salah melainkan proses yang tak sesuai harapan.
Tetapi dengan rasa cinta itu, kita memiliki rasa ingin bangkit kan?


Bentuk rasa cinta itu banyak kok, salah satu contohnya ini nih...

Kegiatan salah satu mata kuliahku (Keterampilan Interpersonal) di Jurusan Sistem Informasi ITS, bertempat di LIPONSOS (Lingkungan Pondok Sosial) Keputih, Surabaya

Ibu-ibu di atas adalah penghuni LIPONSOS yang kondisinya kurang beruntung dari kita

Lagi berbagi kebahagiaan nih :3

Seru yah mau saling mengenal dan membuat orang bahagia. Go spread our love to everyone! :)